Selasa, 30 Desember 2014

Guru Sebagai Pengawet

Salah satu tugas pendidikan  adalah mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi berikutnya, karena hasil karya manusia terdahulu masih banyak yang bermakna bagi kehidupan manusia sekarang maupun di masa depan. Hal ini disebabkan oleh keberhasilan tugas pendidikan yang lain, yaitu pembekalan individu agar mampu berpartisipasi dalam masyarakat dan mampu memberikan sumbangan bagi kehidupan di masa depan. Upaya pelestarian dilakukan melalui pembekalan terhadap calon-calon guru.
Untuk melaksanakan tugasaya sebagai pengawet terhadap apa yang telah dicapai manusia terdahulu, dikembangkan salah satu sarana pendidikan yang disebut kurikulum, yang secara sederhana diartikan sebagai program pembelajaran. Dengan kurikulum, maka jaminan pengetahuan yang telah ditemukan dan disusun oleh para pemikir pendidikan lebih kuat. Dalam perkembangannya kurikulum memiliki sifat yang fleksibel, sehingga memungkinkan perubahan, memungkinkan guru mengembangkan kreativitasnya, memberi peluang untuk penyesuaian dengan kebutuhan masyarakat, seperti muatan lokal, desentralisasi, dan kurikulum berbasis kompeterisi yang dikemas dalam kurikulum 2004.
Untuk dapat mengawetkan pengetahuan sebagai salah satu komponen kebudayaan, guru harus mempunyai sikap positif terhadap apa yang harus diawetkan. Jika tidak, maka dia akan melaksanakan tugas bagaikan pasak persegi yang dimasukkan ke dalam lobang bundar, tentu akan terjadi hambatan dan yang bersangkutan akan melaksanakan tugas tanpa motivasi intrinsic, kebahagiaan sebagai petugas tidak dimiliki, sehingga dia akan bekerja bagaiakan sebuah robot.
Sebagai pengawet, guru harus berusaha mengawetkan pengetahuan yang telah dimiliki dalam pribadinya, dalam arti guru harus berusaha menguasai materi standar yang akan disajikan kepada peserta didik. Oleh karena itu, setiap guru dibekali pengetahuan sesuai dengan bidang yang dipilihnya.
Kadang-kadang guru harus menyelamatkan peserta didik dari dirinya sendiri. Guru harus ingat bahwa setiap peserta didik membutuhkan rasa aman dan berusaha agar dirinya menjadi sumber keamanan, atau sumber penyelamatan dan bukan sebaliknya menjadi sumber terjadinya rasa tidak aman. Penampilan guru yang menakutkan bisa menjadi sumber timbulnya rasa tidak aman, dan ini berarti guru tidak menyelamatkan peserta didik

Guru Merasa Paling Pandai

Kesalahan lain yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran adalah merasa paling pandai di kelasnya. Kesalahan ini berangkat dari kondisi bahwa pada umunya para peserta didik di sekolah usianya relative lebih muda dari gurunya, sehingga guru merasa bahwa peserta didik tersebut lebih bodoh disbanding dirinya, peserta didik dipandang sebagai gelas yang perlu di isi air ke dalamnya. Perasaan ini sangat menyesatkan, karena dalam kondisi seperti sekarang ini peserta didik dapat belajar melalui internet dan berbagai media masa, yang mungkin guru belum menikmatinya. Hal ini terjadi terutama di kota-kota, ketika peserta didik dating dari keluarga kaya yang dirumahnya memiliki berbagai sarana, dan prasarana belajar yang lengkap, serta berlangganan Koran dan majalah yang mungkin lebih dari satu edisi, sementara guru belum memilikinya. Dengan demikian, dalam hal tertentu mungkin saja peserta didik yang belajar lebih pandai dari pada guru. Jika ini benar terjadi, maka guru harus demokratis untuk bersedia belajar kembali, bahkan belajar dari peserta didik sekalipun, atau saling membelajarkan. Dalam hal ini guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat, yang senantiasa menyesuaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Jika tidak, maka akan ketinggalan kereta, bahkan akan disebut guru ortodok.


Menunggu Peserta Didik Berperilaku Negatif

Dalam pembelajaran di kelas, guru berhadapan dengan sejumlah peserta didik yang semuanya ingin diperhatikan. Peserta didik akan berkembang secara optimal melalui perhatian guru yang positif, sebaliknya perhatian yang negatif akan menghambat perkembangan peserta didik. Mereka senang jika mendapat pujian dari guru, dan merasa kecewa jika kurang diperhatikan atau diabaikan. Namun sayang, kebanyakan guru terperangkap dengan pemahaman yang keliru tentang mengajar, mereka menganggap mengajar adalah menyampaikan materi kepada peserta didik, mereka juga menganggap mengajar adalah memberikan sejumlah pengetahuan kepada peserta didik. Tidak sedikit guru yang sering mengabaikan perkembangan kepribadian peserta didik, serta lupa memberikan pujian kepada mereka yang berbuat baik, dan tidak membuat masalah. Biasanya guru baru memberikan perhatian kepada peserta didik ketika ribut, tidak memperhatikan, atau mengantuk di kelas, sehingga menunggu peserta didik berperilaku buruk. Kondisi tersebut seringkali mendapat tanggapan yang salah dari pesenta didik, mereka beranggapan bahwa jika ingin mendapat perhatian atau diperhatikan guru, maka harus berbuat salah, berbuat gaduh, mengganggu, dan melakukan tindakan indisiplin lainnya. Seringkali terjadi perkelahian pelajar, hanya karena mereka kurang mendapat perhatian, dan meluapkannya melalui perkelahian. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kebanyakan peserta didik tidak tahu bagaimana cara yang tepat mendapat perhatian dari guru, orang tua, dan inasyarakat di sekitarnya, tetapi mereka tahu cara mengganggu teman dan cara membuat keributan serta perkelahian, dan ini kemudian yang mereka gunakan untuk mendapatkan perhatian.
Guru perlu belajar untuk menangkap perilaku positif yang ditunjukkan oleh para peserta didik, lalu segera memberi hadiah atas perilaku tersebut dengan perhatian dan pujian. Kedengarannya seperti hal yang sederhana, tetapi memerlukan upaya sungguh-sungguh untuk tetap mencari dan memberi hadiah atas perilaku-perilaku positif peserta didik, baik secara kelompok maupun secara individual.
 Banyak peserta didik bermasalah dengan gurunya. Mereka kurang mendapat perhatian dalam pembelajaran, sehingga sulit menangkap konsep-konsep yang diajarkan oleh guru. Oleh karena itu, banyak guru yang mengeluh, karena peserta didiknya kurang disiplin, mengganggu teman, berteriak-teriak, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, dan lain-lain. Kuncinya adalah bagaimana kita dapat memberikan perhatian. yang proporsional terhadap seluruh peserta didik, dan jangan rnenunggu peserta didik berbuat salah atau berperilaku buruk.

Dalarn hal ini, saya menganjurkan agar para guru senantiasa memberi perhatian dan penghargaan yang pantas kepada peserta didik yang berperilaku baik, dengan cara menyediakan waktu yang sama dengan waktu yang mereka luangkan untuk peserta didik yang bermasalah. Dalam waktu kurang dan tiga bulan, banyak peserta didik bermasalah menjadi baik, dan mereka sudah tidak berkunjung lagi ke ruang BK. Banyak peserta didik yang rajin.

Guru Cantik dan Ganteng

       Berpenampilan cupu, rambut klimis, sepatu mengkilat dan jenggot tebal merupakan tampang dan penampilan guru tahun 60 kebawah dan sekarang sudah tidak in lagi. perkembangan fasion dan mode yang sangat pesat sekarang ini bukanlah momok bagi kita calon guru tetapi merupakan sarana dan prasarana yang baik dalam upaya menarik perhatian anak didik kita.
       Guru itu kalau cewek harus cantik dan kalau cowok harus ganteng merupakan dampak positif dari adanya guru cantik dan ganteng disekolah. biasanya jika sebuah sekolah didominasi oleh 1 jenis gender pastinya perhatian siswanya akan lebih tertumpu pada gender lawannya. dengan adanya guru yang berparas cantik, menawan dan smart akan menjadi motivasi tersendiri bagi peserta didik untuk lebih memerhatikan pelajaran dan mencari perhatian sang guru. tak kayal murid yang biasanya malas mengikuti pelajaran menjadi senang dan rajin mengikuti pelajaran.
bagaimana pula jika disebuah sekolah terdapat guru cantik dan guru ganteng secara bersamaan? hahaha siswa cewek senang siswa cowok juga senang dan akan membuat suasana disekolah menjadi menyenangkan tentunya.
       Tapi perlu diingat juga kecantikan dan ketampanan seorang guru itu tidak hanya dilihat dari bagaimana guru itu berpenampilan, tapi yang lebih penting adalah karakter dan kecerdasan seorang guru dalam membawa suasana ketika pelajaran berlangsung dan yang paling penting adalah budi pekerti guru itu sendiri.
biasa jika di suatu sekolah terdapat guru yang cantik dan ganteng sekolah tersebut pasti dengan goib muncul aura persaingan baik pelajar dengan pelajar, pelajar dengan guru, guru dengan guru hahaha pasti horor. persaingan yang terjadi bisa berbau mendapatkan perhatian baik dari pelajar ke guru atau guru ke guru. menjadi guru yang cantik dan ganteng itu memang ada sulit dan ada senangnya oleh karena itu sebagai guru haruslah pandai menyingkapi semua hal dan kejadian dengan bijaksana.