Kesalahan lain yang sering dilakukan guru dalam
pembelajaran adalah merasa paling pandai di kelasnya. Kesalahan ini berangkat
dari kondisi bahwa pada umunya para peserta didik di sekolah usianya relative
lebih muda dari gurunya, sehingga guru merasa bahwa peserta didik tersebut
lebih bodoh disbanding dirinya, peserta didik dipandang sebagai gelas yang
perlu di isi air ke dalamnya. Perasaan ini sangat menyesatkan, karena dalam
kondisi seperti sekarang ini peserta didik dapat belajar melalui internet dan
berbagai media masa, yang mungkin guru belum menikmatinya. Hal ini terjadi
terutama di kota-kota, ketika peserta didik dating dari keluarga kaya yang
dirumahnya memiliki berbagai sarana, dan prasarana belajar yang lengkap, serta
berlangganan Koran dan majalah yang mungkin lebih dari satu edisi, sementara
guru belum memilikinya. Dengan demikian, dalam hal tertentu mungkin saja
peserta didik yang belajar lebih pandai dari pada guru. Jika ini benar terjadi,
maka guru harus demokratis untuk bersedia belajar kembali, bahkan belajar dari
peserta didik sekalipun, atau saling membelajarkan. Dalam hal ini guru harus
menjadi pembelajar sepanjang hayat, yang senantiasa menyesuaikan ilmu
pengetahuan yang dimilikinya dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat.
Jika tidak, maka akan ketinggalan kereta, bahkan akan disebut guru ortodok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar