Salah satu tugas pendidikan adalah mewariskan kebudayaan dari generasi ke
generasi berikutnya, karena hasil karya manusia terdahulu masih banyak yang
bermakna bagi kehidupan manusia sekarang maupun di masa depan. Hal ini
disebabkan oleh keberhasilan tugas pendidikan yang lain, yaitu pembekalan
individu agar mampu berpartisipasi dalam masyarakat dan mampu memberikan sumbangan
bagi kehidupan di masa depan. Upaya pelestarian dilakukan melalui pembekalan
terhadap calon-calon guru.
Untuk melaksanakan tugasaya sebagai pengawet terhadap
apa yang telah dicapai manusia terdahulu, dikembangkan salah satu sarana pendidikan
yang disebut kurikulum, yang secara sederhana diartikan sebagai program
pembelajaran. Dengan kurikulum, maka jaminan pengetahuan yang telah ditemukan
dan disusun oleh para pemikir pendidikan lebih kuat. Dalam perkembangannya kurikulum
memiliki sifat yang fleksibel, sehingga memungkinkan perubahan, memungkinkan guru
mengembangkan kreativitasnya, memberi peluang untuk penyesuaian dengan
kebutuhan masyarakat, seperti muatan lokal, desentralisasi, dan kurikulum berbasis
kompeterisi yang dikemas dalam kurikulum 2004.
Untuk dapat mengawetkan pengetahuan sebagai salah satu
komponen kebudayaan, guru harus mempunyai sikap positif terhadap apa yang harus
diawetkan. Jika tidak, maka dia akan melaksanakan tugas bagaikan pasak persegi
yang dimasukkan ke dalam lobang bundar, tentu akan terjadi hambatan dan yang
bersangkutan akan melaksanakan tugas tanpa motivasi intrinsic, kebahagiaan
sebagai petugas tidak dimiliki, sehingga dia akan bekerja bagaiakan sebuah
robot.
Sebagai pengawet, guru harus berusaha mengawetkan
pengetahuan yang telah dimiliki dalam pribadinya, dalam arti guru harus
berusaha menguasai materi standar yang akan disajikan kepada peserta didik.
Oleh karena itu, setiap guru dibekali pengetahuan sesuai dengan bidang yang
dipilihnya.
Kadang-kadang guru harus menyelamatkan peserta didik
dari dirinya sendiri. Guru harus ingat bahwa setiap peserta didik membutuhkan
rasa aman dan berusaha agar dirinya menjadi sumber keamanan, atau sumber
penyelamatan dan bukan sebaliknya menjadi sumber terjadinya rasa tidak aman.
Penampilan guru yang menakutkan bisa menjadi sumber timbulnya rasa tidak aman,
dan ini berarti guru tidak menyelamatkan peserta didik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar